CSS

Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Februari 2013

Imp0sible is n0thing'in y0ur dream .

Menanti Sukses

Ada seorang pemuda yang pergi ke pantai setiap hari dan duduk di tepi dermaga sambil memandangi lautan. Suatu hari, seorang pria tua menghampirinya dan bertanya, "Kau sedang lihat apa?"

"Lihat perahu di sana?" jawab pemuda itu, "Saya menunggu perahu itu mendekat."

"Apa yang istimewa dari perahu itu?" si pria tua bertanya lagi.

"Memang Bapak tak bisa lihat sebutannya?" tanya si p
emuda. Pria tua itu memicingkan matanya dan menggeleng. "Tidak, aku tak bisa membacanya."

"Namanya Sukses."

Si pria tua itu memutar bola matanya. "Jadi, maksudmu kau datang ke sini setiap hari untuk menunggu sukses menghampirimu?"

"Benar," ujar si pemuda dengan pandangan menerawang.

"Kau itu cuma bermimpi! Kau harus berusaha menjemput Sukses, bukan malah menunggunya mendatangimu!"

Si pemuda hanya mengangkat bahu dan menggerutu sendirian, sementara si pria tua melangkah pergi.

Esok paginya, kedua orang itu bertemu lagi di dermaga. Si pria tua itu mengganti pakaiannya dengan baju renang. Lalu ketika bersiap-siap melompat ke dalam air, si pemuda menarik lengannya. "Mau apa Bapak?" tanya pemuda itu.

"Aku mau menjemput Sukses. Mau ikut juga?"

"Bapak gila, ya, nanti bisa tenggelam!"

"Lebih baik tenggelam di saat berjuang mencapai Sukses, daripada cuma duduk di pantai menanti sia-sia sukses itu datang padaku!" Sesaat berikutnya, si pria tua langsung menceburkan diri ke dalam danau.

Analogi di atas menggambarkan betapa banyak di antara kita lebih memilih untuk menunggu sukses atau peluang sukses daripada memberanikan diri untuk bertindak nyata. Karena sering kali take action identik dengan risiko. Bagaimana kalau kita "tenggelam" (baca: gagal)? Begitulah pemikiran kita. Tapi bukankah take action jauh lebih baik daripada sekadar duduk diam menunggu sukses itu menghampiri kita? Meski akhirnya kita belum berhasil meraih cita-cita, setidaknya kita sudah berusaha dan tentu kita akan mendapat suatu pelajaran penting dari situ untuk bekal kita di langkah berikutnya.

Nah kalau begitu, yang manakah kita, si pemuda atau si orang tua?

MUSIC

Gak usah liatin gue gan,di cuekin aja..

Surat Cinta Kepada Anak

JANGAN ABAIKAN, TOLONG DI BACA:

Surat Cinta Kepada Anak


Anakku,

Ketika aku mulai tua, aku tidak lagi seperti dulu.
Tolong mengertilah, dan cobalah untuk bersabar terhadapku.

Ketika aku menumpahkan sup di pakaianku,

ketika aku lupa cara mengikat tali sepatu,
tolong ingatlah, bagaimana dulu aku mengajari kamu dengan memegang tanganmu.

Ketika aku berkata sesuatu berulang kali sampai kamu malas mendengarnya,

bersabarlah untuk mendengarkannya. Jangan potong pembicaraanku.
Ingatkah di saat kamu kecil, aku mesti mengulangi cerita sampai berapa kali sehingga kamu bisa tertidur pulas.

Ketika aku meminta kamu untuk memandikanku, tolong jangan salahkan aku.

Masih ingatkah ketika kamu kecil, aku mesti mencari cara membujukmu untuk mandi.

Ketika aku tidak mengerti tentang perkembangan teknologi dan masalah baru,

janganlah menertawakan aku.
Cobalah ingat dulu betapa aku sabar menjawab semua pertanyaan "mengapa" dari kamu.

Ketika aku sulit berjalan karena kaki terasa lelah, tolong ulurkan tanganmu yang kuat itu untuk memapahku.

Seperti waktu kamu kecil, aku mengajarimu berjalan.

Ketika aku lupa akan topik yang sedang kita bicarakan,

berikan aku beberapa waktu, untuk aku mengingat kembali.

Sebenarnya bagiku, masalah topik itu tidaklah penting.

Asalkan kamu mau bersabar mendengarkanku, bagiku itu sudah cukup.

Ketika kamu melihat aku makin menua, janganlah bersedih.

Mengertilah, dan dukunglah aku.
Seperti yang aku lakukan ketika kamu baru memulai perjalanan hidup di dunia ini.
Saat itu, aku yang menuntun kamu untuk berjalan di kehidupan ini.
Dan sekarang, temanilah diriku untuk melanjutkan perjalanan terakhirku ini.

Berikan kasih sayang dan kesabaranmu.

Aku akan penuh syukur dan tersenyum.
Dan senyuman ini berisi kasih tak terhingga dari diriku untukmu.

MUSIC

Gak usah liatin gue gan,di cuekin aja..

DITEMUKANNYA ARLOJI YANG HILANG

Seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tidak sengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran d
iri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu. Teman-teman karyawan yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan.

Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut. Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Kini hanya dia seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.

'Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini?' Tanya si tukang kayu.

'Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi to-tak, tok-tak.'

'Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada' Anak itu menjawab.

***

Sahabatku, tahukah engkau bahwa problema/masalah yang kita hadapi akan berkurang seperempat hanya dengan membiarkan diri duduk secara tenang?

Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam 'kegaduhan'.

jejak kaki yang bermakna

Alkisah, ada sepasang suami istri yang sangat mengharapkan kehadiran momongan. Setelah melalui berbagai macam usaha dan waktu yang lama, akhirnya mereka dikarunia seorang putera yang berparas tampan. Sayangnya, si anak menderita kelainan bawaan yakni penyusutan otot sehingga berdampak pada kaki yang lemah yang tidak cukup kuat untuk menopang tubuh yang bertumbuh.

Kata do
kter, "Bapak, ibu. Tidak ada cara lain untuk membuat putera Anda kelak bisa berdiri dan berjalan sendiri, yaitu dengan membiarkan dia berjalan dan melakukan segala sesuatunya sendiri. Anda berdua harus tega demi masa depannya. Itu satu-satunya jalan jika kelak ingin melihatnya bisa berjalan sendiri". Sejak saat itu, dengan penuh sayang dan hati yang pedih, mereka setiap hari harus melihat putera kesayangan bersusah payah belajar berjalan, terjatuh, sakit, kadang terluka hingga menangis dan kemudian harus mulai bangkit dan berjalan lagi. Begitu seterusnya.

Suatu hari, saat si anak berusia 9 tahun, terjadi peristiwa yang cukup tragis. Hari itu, udara begitu dingin, salju turun dengan cukup lebat. Jarak dari rumah ke sekolah kira-kira 1 kilometer. Saat sekolah usai, si anak sangat berharap orang tuanya akan datang menjemput dan membantunya berjalan pulang. Ditunggu-tunggu dengan cemas, hingga sekolah sepi, orangtuanya tak kunjung tiba. Hati anak itu pun dipenuhi dengan kekecewaan, kemarahan dan kebencian.

"Papa Mama kejam. Jahat. Tidak sayang padaku. Membiarkan aku menderita. Aku benci mereka!" sambil mengertakkan gigi, dia pun berjalan pulang dengan langkah terseok-seok. Jalanan tertutup oleh salju dan itu sangat menyulitkan untuk mengatur langkah kakinya yang lemah. Setapak demi setapak. Berkali-kali dia jatuh, kesakitan, memar dan bahkan berdarah. Setiap kali terjatuh, hatinya semakin sakit dan kebencian kepada orang tuanya makin membara. Tekad di dadanya bulat untuk membenci orangtuanya seumur hidup.

Akhirnya... si anak tiba di depan rumah. Saat pintu dibukakan, ayah dan ibunya segera memeluk sambil menangis. "Anakku, kamu hebat sekali! Kami tahu kamu sangat menderita, kami melihat dari jauh setiap langkah dan kejatuhanmu, maafkan ayah dan ibu yang tidak membantumu. Tapi lihatlah ke belakang... bekas tapak kakimu di atas salju... dan itu adalah tapak kakimu sendiri, Nak. Kamu sendiri, berhasil melalui perjalanan sulit hari ini.

Ingat Nak, hari-harimu ke depan masih panjang dan tidak mudah, tetapi dengan kemampuanmu hari ini, papa mama yakin dan percaya, kamu akan bisa melaluinya, dengan percaya diri dan tanpa perlu bertopang kepada orang lain". Si anak pun segera larut dalam tangis bahagia. Karena ternyata orang tuanya bukannya tidak menyayangi tetapi mereka menunjukkan kasih sayang dengan membiarkan berjalan sendiri menyongsong masa depan yang akan dilaluinya nanti.

Netter yang luar biasa,

Kita sebagai orangtua, ketika anak mengalami kesulitan, cobalah untuk membiarkan mereka berdiri dan menemukan solusi. Biarkan mereka belajar dan berusaha. Justru keberanian untuk menanggung setiap kesulitan yang dihadapilah yang akan menjadikan anak kita sebagai pribadi yang tangguh, mantap, percaya diri, dan bertanggung jawab. Hingga kelak, tanpa kita, mereka akan bertumbuh sebagai manusia yang kuat dalam menghadapi problem yang muncul dan bisa menjadi pemenang dalam mengarungi lautan kehidupan ini.

Salam sukses, luar biasa!

-----